Kepala Desa, Penggerak Ekowisata dan Ekonomi Masyarakat Nelayan Pulau Jinato

Andi sulistilawanti, Amd.Kep Ibu kepala Desa Jinato kelahiran tahun 1992, menikah umur 18 tahun,  dikaruniai dua orang anak. Terpilih menjadi Kepala Desa pemilihan Tahun 2019 dan merupakan perempuan termuda menjadi kepala Desa Se-kabupaten Kepulauan Selayar

Foto Bersam Ibu Kepala Desa Jinato dan Tim Media Trip Tahun 2021

Desa Jinato kecamatan Takabonerate dulunya dikenal dengan pelaku illegal fishing, Stigma masyarakat bahwa Desa Jinato sebagai penyumbang kegiatan illegal fishing terutama bius kini mulai sirna seiring waktu berlalu.

“Boleh dikatakan bahwa pelaku illegal fhising di Desa Jinoto sudah tidak ada lagi dan bahkan semua yang beraktivitas sebagai nelayan pelaku illegal fhising atau yang biasa dikenal dengan penangkapan yang tidak ramah lingkungan semuanya sudah beralih karena adanya penyadaran dari Local Champion Desa Jinato” ungkap Sulistilawanti.

Baca Juga : Karang Indah Wisata Tebing Batu Pantai Barat Selayar

“Nelayan yang dulunya Ilegal kini beralih ke nelayan Panambe, pemancing dan penangkapan dengan teknik yang lebih modern lagi yaitu Bagang. Perubahan terlihat dari tahun 2020 sampai sekarang. Suami (H. Neng) saya sendiri dulu pelaku illegal kini tidak lagi melakukan itu dan beliau meninggalkan semua itu karena merasa waswas dan sering berurusan dengan aparat penegak hukum baik dari Balai Taman Nasional maupun Kepolisian. Beliau juga sudah di nobatkan sebagai Local Champion Desa Jinato, karena memberikan penyadaran kepada teman-temannya, keluarga dan warga yang dulu pelaku Illegal untuk tidak lagi melakukan hal-hal yang dapat merusak ekosistem laut. Bahkan beliau juga memfasilitasi kapal untuk nelayan yang telah beralih ke penangkapan Legal, ada puluhan unit kapal diberikan ke nelayan Panambe, nelayan Pemancing dan Bagang. Beliau hanya berharap ikan hasil tangkapan mereka dijual ke dia tanpa ada potongan harga ikan. Dia hanya berharap fasilitas kapal diberikan agar di rawat sebaik mungkin” paparnya.

Ikan Kering Hasil Tangkapan Nelayan Desa Jinato

Lanjut Sulistilawanti “sekarang yang sering menjadi masalah adalah konflik antara nelayan desa yang satu dengan nelayan desa lain dalam Kawasan Taman Nasional Takabonerate, begitu juga nelayan yang berasal dari luar Kawasan Taman Nasional, bahkan dari luar kabupaten seperti Makassar, Bulukumba dan Sinjai. Konflik biasanya terjadi karena antara nelayan melakukan aktivitas di lokasi sama tapi menggunakan alat tangkap berbeda sehingga saling mengganggu. Sehingga tiap Desa dalam Kawasan Taman Nasional memiliki aturan lokasi sesuai kesepakatan antar Desa. misalnya Bagang tidak menangkap di lokasi penangkapan nelayan panah, nelayan penyelam tidak melakukan aktivitas di lokasi pemancing”. Sulistilawati menambahkan “Kelompok nelayan selama saya menjabat sebagai Kepala Desa sudah beberapa kelompok nelayan tangkap mendapat bantuan dari Dinas Perikanan Kab. kepulauan Selayar. Bukan hanya kelompok nelayan UMKM hasil produksi ikan kering dan abon juga pernah mendapat bantuan”.

Masyarakat yang berada dalam kawasan taman nasional telah mengetahui bahwa ada zona inti Kawasan Taman Nasional Takabonerate, sebagai zona yang dilarang melakukan aktivitas penangkapan. “warga Desa Jinato dengan aktivitas sebagai nelayan sudah mengetahui bahwa Zona Inti itu dilarang melakukan penangkapan, itu semua tidak terlepas dari peran aktif dari Desa untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat bahwa kita harus menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang sehingga anak cucu kita dapat menikmatinya juga” tutup ibu Kepala Desa Jinato.


Penulis : R

Editor : R

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *