Pestisida: Jalan Keluar yang Mengkhawatirkan

Pada pertemuan dengan petambak Kel. Data, Kec. Duampanua, Kab. Pinrang, 14 Agustus 2021, salah satu keluhan petambak udang vannamei adalah merebaknya hama wereng pada tambak-tambak mereka. Hama ini baru saja merebak, tampaknya mereka tidak memahami asal-usul hama ini. Ada yang menuduh limbah perusahaan mutiara menjadi penyebabnya. Karena itu, saya membuka-buka kembali file lama, dan menemukan beberapa catatan.

Dr. Khusnul Yaqin, menjelaskan dampak pestisida bagi hewan dan bagi manusia pada kegiatan Sekolah Tambak Lowita Pinrang.

Hasil survei pada Januari 2014 lalu, tepatnya di kawasan tambak budidaya bandeng di Kabupaten Maros dan Pangkep, ditemukan beberapa orang petambak juga bermasalah dengan hama ini. Menurut mereka, hama ini dapat mengganggu insang ikan dan menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lambat.

Diantaranya H. Kulle, menggunakan pestisida bermerek Serpak (diperuntukkan untuk hama pohon cokelat) dengan tujuan untuk membasmi hama wereng. Dengan dosis 1 tutup botol serpak, lalu diencerkan ke dalam 10 liter air, larutan itu ditebar pada pagi hari. Wereng pun mati, dan ikan-ikan bandeng akan memakan bangkai hama tersebut.
Pernah pula H. Kulle menggunakan pestisida bermerek Bentan untuk membasmi hama ikan liar, namun lantaran kesalahan teknis justru membunuh ikan bandeng yang ia pelihara. Lantaran dianggap tidak terurai betul saat pengeringan lahan, sehingga naik bersama klekap/pakan alami ikan bandeng. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi menggunakan pestisida bermerek Bentan.

Sementara Anwar, juga pembudidaya bandeng, menggunakan pestisida bermerek Sponsor untuk membasmi wereng. Ia mencampur sponsor dengan dosis tujuh tutup botol yang dilarutkan ke dalam 5 liter air. Juga pada pagi hari ditebar di tambak. Saat menebar pestisida, dipastikan sebelum penebaran benur udang, dan hanya bandeng saja di dalam tambak, karena jenis Sponsor juga dapat membunuh udang yang dibudidayakan.

Begitu halnya Mustari, juga dari Maros, membasmi wereng dengan pestisida, tapi dengan merek lain lagi, yaitu Arrivo 30EC dengan dosis 2 ml yang diencerkan dengan 5 liter air atau Pestisida merek Penalty dengan dosis yang sama. Juga tak boleh ada udang budidaya dalam tambak, karena dipastikan akan mati.
Kenapa tidak boleh ada udang? ternyata, wereng ini adalah udang-udangan kecil, yang biasa dikenal dengan nama jembret. Nama ilmiah jembret saya telusuri di pencarian kemungkinan adalah Mesopodopsis sp.

Saya membuka file eksternal review penyusunan buku BMP (Better Management Practice) Budidaya Bandeng pada 3 Januari 2014, ternyata sudah disinggung di situ, bahwa salah satu hama penting bagi budidaya bandeng adalah wereng/jembret. Menurut salah seorang peserta yang juga pembudidaya bandeng, yaitu Ilham asal Sinjai, mengatakan bahwa hama ini muncul ketika kualitas air menurun. Ia mengatasinya tidak dengan pestisida, tapi dengan melakukan pembuangan air dan mengganti saringan pada pintu air, dengan ukuran yang lebih kecil. Bisa juga dengan memanfaatkan lampu, crustacea kecil itu naik ke permukaan kemudian diserok dan dibuang keluar dari tambak.

Sayangnya, pada forum itu juga ia mengaku mempraktikkan penggunaan pestisida saat persiapan lahan budidaya gracilaria, katanya untuk menjernihkan air. Mematikan semua lumut yang berkembang ataupun plankton, sebelum kegiatan budidaya gracilaria polikultur bandeng dimulai. Dia tidak menyebut jenisnya, tapi berdasarkan hasil kunjungan ke Sinjai sebelumnya, jenis pestisida yang biasa digunakan yaitu bestnoid.

Terkait bestnoid, banyak ditemukan pada pembudidaya udang, baik di Pinrang maupun di Maros, tujuannya untuk membunuh siput/bekicot maupun teritip, yang dianggap mengganggu bagi pertumbuhan udang. Hasil survei tambak udang vannamei di Kolaka, juga dominan menggunakan pestisida jenis ini.

Pernah satu kali saya diceramahi oleh pembudidaya di Pinrang, karena tidak menggunakan pestisida bestnoid pada persiapan lahan. “Itu mi kalau tidak pakai pestisida/bestnoid, jadinya lebih banyak udang cani/liarnya di tambak dibandingkan udang windunya”. Perasaan saya langsung dongkol saat itu. hehe..

Dosis umum penggunaan bestnoid ini yaitu 200 gram/hektar dan menyesuaikan dengan konsentrasi kekerangan/siput/biri-biri dalam tambak. Umumnya, petambak merasa/berfikir penggunaan bestnoid ini tidak berbahaya. Namun, ketika kita memeriksa bahan aktifnya, sebenarnya juga mengkhawatirkan. Dr. Taruna Mulia dari Balai Riset Perikanan Budidaya Maros pernah mengatakan bahwa Bestnoid mengandung bahan aktif Fentin Asetat 60% dengan paruh waktu (DT50) selama 7 hari di perairan dan 30 hari dalam sedimen (https://sitem.herts.ac.uk/aeru/ppdb/en/reports/311.htm).

Fentin Asetat merupakan senyawa organotin, mengandung logam tin yang berbahaya dan dapat merusak organ reproduksi.

Sebuah penelitian pada Nila menunjukkan toksisitas bahan aktif ini pada konsentrasi di atas 0,008 ppm terhadap penurunan laju pertumbuhan yang disebabkan oleh penurunan total eritrosit, kadar hemoglobin, kadar hematokrit, dan peningkatan total leukosit (Lukmini dkk. 2016).

Ir. Muharijadi Atmomarsono, MSc, waktu dia membawa materi Sekolah Tambak Pinrang, pernah mengatakan bahwa udang pada dasarnya bisa hidup bersama kekerangan (yang dianggap hama). “Percobaan tambak yang ada trisipannya, juga bisa hidup dan panen, udang menyukai bau trisipan, mengasilkan bau atraktan yang bisa menimbulkan nafsu makan pada udang,” Kata Muharijadi.

Cuma menurut Muharijadi, harus hati-hati dengan pestisida jenis brestan, sebab mengandung timah hitam. Jika kita melakukan pemupukan SP36, kemungkinan tidak berfungsi. Fosfat dari SP36 akan diikat oleh kandungan kimia dari pestisida. Karena itu, pakan alami akan tidak tumbuh dan air akan menjadi bening.
Muharijadi memberi sedikit jalan keluar, jika sudah terlanjur menggunakan pestisida hal, mau tak mau kita harus mengangkat lapisan permukaan tanah tambak dan dibuang. Bisa juga dibajak, dilakukan pemberian sekam padi, jerami, dan dedak. Fungsinya untuk menghilangkan efek pestisida, memperbaki kondisi tanah dan plankton dapat tumbuh.

Kembali lagi ke pestisida, selain yang disebut di atas, masih terdapat daftar panjang pestisida yang sering digunakan oleh petambak, diantaranya, Bento, Taurus, Bintang, Tiodan, Akodan, bentan, rewako, prokers, basbang, dll. Bahan-bahan aktif dari pestisida ini diperkirakan akan bertahan di dalam tanah selama kurang lebih 20 tahun. Salah satu dampak parahnya adalah mematikan/menstrilkan bakteri-bakteri yang ada dalam tanah.

Penjelasan mengenai dampak pestisida ini diuraikan dengan baik oleh Dr. Khusnul Yaqin (dosen Ekotoksikologi dari Perikanan Unhas), saat mengisi kegiatan sekolah tambak ke-6 di Tasiwalie, Pinrang pada 26 September 2016. Menurutnya, pestisida yang mengandung organoklorin seperti Tiodan dan Brestan, sangat ampuh dalam membasmi hama, meski dengan hanya pemberian larutan dengan konsentrasi sedikit. Pada organoklorin ini terdapat unsur tripeniltin (logam) yang tidak bisa dipecah oleh bakteri dalam rentang waktu 1-2 tahun.

Pemakaian organoklorin sudah dilarang oleh Eropa dan Indonesia juga sudah mengadopsinya. Bahan aktif itu diganti dengan organofospat dan karbamat (yang ada pada baygon). cuma masih terdapat efek yang ditimbulkan jika pemakaian terus menerus, apalagi jika tidak sesuai dengan dosis. Dalam jangka waktu lama akan mengalami pengendapan dalam sedimen, terikat pada plankton yang kemudian dimakan udang kecil dan kemungkinan berdampak merusak.

Dampaknya pada syaraf, kandungan organofosfat maupun karbamat dapat menyebabkan kegagalan sistem syaraf. Jika pada manusia dapat mengurangi kecerdasan pada anak, juga dapat memicu munculnya sel kanker.

Sehingga, dari kenyataan yang kita peroleh di lapangan. Begitu massifnya penggunaan pestisida untuk memberantas hama wereng ataupun teritip/siput maupun untuk menjernihkan air pada tambak gracilaria. Dimana bisa dituntaskan dengan cara-cara tanpa pestisida, dengan resiko kerja keras, karena harus memungut sendiri teritip/kerang/bekicot ataupun menyaring wereng/udang-udang kecil dengan waring. Namun, petambak-petambak kita tidak mau lagi bersusah-susah menggunakan otot mereka, tapi lebih memilih cara yang gampang, yaitu dengan menebar pestisida.

Melihat fenomena ini, menjadi tanggungjawab bagi kita semua, untuk melakukan usaha mencari jalan keluar, misalnya mendorong penelitian untuk menghasilkan pestisida organik, di samping saponin yang sudah populer untuk membunuh ikan liar. Mempelajari rantai makanan atau musuh alami dari hama-hama tersebut, sehingga tidak terjebak oleh penggunaan pestisida terus menerus.

Baca Juga : dari petambak untuk petambak

Di samping itu, mengajak petambak untuk mencari jalan-jalan terbaik, bukan dengan serta merta memilih jalan pintas, tapi penuh resiko. Saya pernah mendengar bahwa kita selalu terjebak pada sesuatu yang mudah dan murah, yang dikerjakan tanpa susah payah. Cara-cara gampang ini biasanya bermasalah jika melihat jangka panjangnya. Tapi, ini lagi-lagi soal kebiasaan, soal mentalitas.

Jika hal ini terus dilakukan, yakin saja, maka kualitas tanah kita akan semakin menurun, bakteri-bakteri baik, organisme baik di perairan kita akan mati, menyusut dan lenyap, sedangkan hama akan terus ada dan tak berkurang. Membayangkan ini, sama dengan membayangkan keruntuhan (colaps) kegiatan perikanan budidaya di masa yang akan datang.


Penulis : Idham Malik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *