Terasi Sebagai Penopang Hidup Keluarga

Sejarah Terasi

Terasi selalu identik dengan cerita kerajaan Cirebon, Raja pertama Cirebon pangeran Cakrabuana atau Mbah Kuwu Cirebon sering menyempatkan waktunya untuk mencari udang rebon. Hasil tangkapan udang rebon itu diolah menjadi terasi oleh Pangeran Cakrabuana. Opan Safari, sebagai sejarawan kerajaan Cirebon menceritakan terasi olahan Pangeran Cakrabuana berkaitan dengan status Ketumenggungan yang diperoleh Cirebon dari Kerajaan Padjajaran.

“Udang yang diolah menjadi terasi itu menjadi memiliki nilai lebih. Kepiawan Pangeran Cakrabuana membuat terasi menjadikan Cirebon diangkat menjadi Ketumenggungan,” berdasarkan new.detik.com

lanjut Opan mengatakan bahwa terasa sudah ada sejak dahulu kala, Menurut Opan, terasi sempat memiliki masa kejayaan, tepatnya tahun 1415. “Keberadaan terasi sudah jelas, ada sejak zaman dulu. Sejak Cirebon belum menjadi kerajaan besar. Bahkan, sejak zaman Kerajaan Singhapura, terasi sudah ada,” kata Opan. dikutip dari new.detik.com

Terasi Sebagai Penopang Ekonomi Keluarga

Kelompok Abbaji Pakmai didampingi oleh penyuluh PPB

Namanya Ibu Sarimulli, sebagai ketua kelompok Abbaji Pakmai, dibantu satu sekertaris dan satu bendara serta tujuh orang angggota kelompok. Poklahsar Abbaji Pakmai adalah salah satu kelompok binaan Dinas Kelauatan dan Perikanan Kab. Kepulaua Selayar yang difasilitasi oleh tenagah penyuluh kontrak Kementerian Kelautan dan Perikanan Ibu Nuryati. S,Pi,. Disebut juga sebagai PPB (Penyuluh Perikanan Bantu).

Kelompok yang dibentuk pada tanggal 5 Juli 2011, beranggota 10 orang ibu-ibu rumah tangga dengan kelas kelompok Madya ter tanggal  21 Desember 2015. Kelas kelompok sebagai kriteria penilaian kelembagaan UKM/UMKM di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Secara stratifikasi kemampuan kelembagaan kelas madya lebih tinggi dari kelas pemula, kelembagaan pada kelas tersebut sudah melakukan kegiatan perencanaan meskipun masih terbatas.

Terasi Tideruana, hasil kemasan botol kecil dengan berat 150 gram

Kelompok Abbaji Pakmai memiliki usaha yang ditekuni yaitu pengolahan terasi udang asli selayar, dengan bahan baku udang rebon dan olahannya sudah memiliki P-IRT dari dines Kesehatan Kepulauan Selayar. Dengan label P-IRT ini menandakan bahwa hasil olahan terasi dari kelompok ini sudah tidak menggunakan bahan-bahan pengawet dan juga bahan pewarna makanan lainnya, yang dapat membahayakan konsumen.

Baca Juga : Profil Kelompok Perikanan Poklahsar Abbaji Pakmai Desa Kahu-Kahu Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar

Ibu Sarimulli sebagai ketua kelompok mempunyai tanggung jawab besar tehadap 10 anggota kelompok ibu-ibu, dengan tingkat kelas ekonomi menengah ke bawah. Melihat omzet kelompok Abbaji Pakkmai per tahunnya mencapai Rp. 43.200.000,- dengan tingkat produksi yang dilakukan 4 kali dalam seminggu dengan bahan baku yang diolah 100 kg udang rebon dengan akumulasi hasil usah yaitu Rp. 6.400.000,-

Penjualan terasi Tideruana

Dari hasil produksi terasi udang yang dipasarkan di beberapa wilayah di Kepulauan Selayar dengan sistem pemasaran yang dititipkan ke penjual yang ada di pasar sentral Selayar. Melihat peluang usaha itu penyuluh sebegai fasilitator juga pendamping kelompok memperluas penjualan dengan inovasi, memperbaiki kualitas kemasan dari terasi dengan memberikan label terasi Asli Selayar “Tideruana” sehingga peningkatan penjualan terasi semakin meningkat. Ada dijual secara online terutama dipasarkan di startup penjualan yang ada di Indonesia. Harga terasi yang dijual dengan kemasan botol kecil, terbilang murah Rp. 15.000,- dengan berat netto 150 gram per botolnya.

Baja Jug : Jambu Mete Unggulan Selayar

Dari hasil penjualan terasi udang kelompok Abbaji Pakkmai yang sudah dilakukan selama kurung waktu 10 tahun sejak dibentuknya kelompok sudah dapat meningkat hasil perekonomian anggota kelompok yang tiap bulan dan akhir tahun melakukan pembagian hasil usaha bagi anggota kelompok yang aktif melakukan produksi terasi.


Penulis : Rustam

One thought on “Terasi Sebagai Penopang Hidup Keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *